Ironi Waktu

Dua hal yang membuat manusia terlena, yaitu kesehatan dan waktu luang. Begitu kira-kira perkataan yang akrab di telinga kita. Nasehat bijak yang sering digunakan untuk menyadarkan para manusia yang terlalu asik dalam hegemoni dunia. Betapa kesehatan dan waktu merupakan dua hal yang dapat menjerumuskan kita ke dalam jurang kelalaian.

Namun, pada kesempatan kali ini saya hanya akan berbicara mengenai waktu dan kesehatan di tulisan selanjutnya. Persoalan waktu menjadi pembahasan yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Di zaman yang segala sesuatunya serba dimudahkan justru membuat banyak manusia lalai dalam urusan waktu. Kenapa waktu? Karena waktu telah membuat kita (baca: manusia) menjadi orang yang sangat merugi. Terlalu banyak orang yang terlena dengan yang namanya waktu. Rasa-rasanya bagi kita waktu itu adalah sesuatu yang bisa dibeli dan suatu hal yang dapat kembali.

Manusia berada dalam kerugian ketika tidak menggunakan waktu dalam kegiatan yang bermanfaat. Manusia akan terjebak ke dalam lumbung kesia-siaan. Sia-sia dalam mengabiskan umur yang singkat ini. Hidup yang hanya sekali diberikan oleh Tuhan olehnya tidak boleh asal digunakan.  Bukankah kita mengamini jika yang terbaik adalah melakukan tindakan yang menguntungkan apalagi bisa menghasilkan uang. Time is money, right?

Lain di mulut, lain pula yang dilakukan. Itulah yang terjadi kepada kita ketika membahas konsepsi mengenai waktu. Terlalu banyak dari kita orang-orang milenial yang menganggap remeh waktu. Contoh paling nyata dalam kehidupan sehari-hari ialah lahirnya istilah jam karet. Istilah ini lahir karena lelet atau lambatnya suatu acara, kegiatan, agenda, pertemuan, atau apapaun itu yang sifatnya telah terjadwal. Jika acara telah terjadwal pukul 08.00, maka acara tersebut paling baru dimulai satu jam kemudian. Biasanya, kalau acara itu berupa seminar, yang kadang telat adalah pembicaranya. Padahal pembicara adalah mereka ynag diberikan kepercayaan berbicara didepan banyak orang karena pengalaman, prestasi, karya, atau segala sesuatu yang sifatnya dapat dijadikan teladan. Anehnya, mereka yang harusnya memberi teladan malah memberi contoh sebaliknya. Itu baru yang resmi saja penuh dengan lika-liku, apalagi yang sekedar rapat setaraf tingkat mahasiswa. Rapat baru akan dimulai ketika peserta yang terkumpul memenuhi kuota forum setengahnya. Atau minimal pengurus intinya datanglah, paling mentok ketuanya yang hadir buat memimpin rapat. Ironi memang. Padahal sejak kecil diajari untuk selalu disiplin terhadap waktu, tapi ketika dewasa praktek-praktek tersebut hilang begitu saja.

Padahal hampir setiap manusia modern tidak lepas dari gadget yang itu artinya selalu ada kesempatan untuk dapat melihat waktu. Hanya saja kurang pekanya diri membuat kita lebih disibukkan dengan beragam aktivitas yang berbau eksistensi diri. Misalnya media sosial. Sungguh aneh memang manusia modern. Punya gadget bagus, pakai jam tangan mahal, tapi masih suka telat.

Ini baru berbicara mengenai substansi dari waktu. Bagaimana kita menghargai waktu itu sendiri. Kita yang sangat suka dengan menunda-nunda. Senang dengan keterlambatan. Berbanding terbalik ketika dihadapkan dengan lampu lalu lintas. Angka pada waktu digital belum menunjukkan berakhirnya waktu menghitung mundur sebagai penanda bergantinya lampu merah ke lampau hijau, tetapi sudah banyak pengendara yang melaju kencang mengindahkan waktu digital pada lampu lalu lintas. Padahal kalau rapat sukanya telat. Lagi-lagi sebuah ironi.

Masuk ke pembahasan esensi dari waktu. Cukup pelik memang. Sebab ironi dan pradoks bercampur menjadi. Setiap manusia rasa-rasanya berhak dan bertanggungjawab atas dirinya masing-masing. Namun, banyak dari kita yang kurang bijak dalam menggunakan waktu di dalam kehidupannya. Seolah waktu adalah barang yang bisa diatarik kembali. Padahal waktu tidak pernah bisa kembali lagi. Pernah tidak kita bertanya kepada diri sendiri, sepertinya baru kemarin menginjakkan kaki di sekolah, rasanya baru kemarin kita berlari riang di tanah lapang, rasanya baru kemarin kita masuk kuliah, rasanya baru kemarin kita diwisuda, rasanya baru kemarin kita mendapat kerja, rasanya baru kemarin kita menggendong cucu, terus pertanyaan-pertanyaan lain silih berganti terlintas menarik diri untuk menikmati romansa nostalgia masa lalu.

Lalu yang menjadi miris adalah ketika memori masa lalu menyisahkan penyesalan. Andai saja dulu aku…. Begitu lah kira-kira pertanyaan yang akan muncul. Mengandiakan hal yang telah lalu dengan rasa sesal. Padahal masa lalu hanyalah cermin agar dapat menengok ke belakang dan menarik pelajaran darinya. Lalu menjadi hidup sehidup-hidupnya pada hari ini, sehingga dapat menebar benih terbaik di masa depan. Karena waktu adalah teman berharga yang akan membimbing kita menggapai mimpi dan sekaligus musuh terjahat yang akan menjatuhkan kita.

Olehnya, kita harus bijak dan seksama dalam menggunakan waktu. Mungkin sekali-sekali jalan ke mal, hang out bareng teman, lumrah bagi manusia masa kini, tapi jangan sampai menjadi kebutuhan primer. Cukup sekali saja dalam sebulan misal. Produktifkan diri dengan melakukan beragam kegiatan yang bermanfaat baik itu untuk diri ataupun orang lain. Agar kelak tidak ada penyesalan, tidak ada duka, yang tinggal hanyalah kenangan berharga dalam untaian waktu.

 

 

Iklan